Oleh: Galang Ikhwan Aji Sabda, M.I.Kom.
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran
Saat ini, popularitas sebuah destinasi wisata sering kali tidak lagi ditentukan hanya oleh keindahan tempat tersebut. Sebuah lokasi yang sebelumnya tidak dikenal dapat berubah menjadi destinasi favorit hanya dalam hitungan hari setelah menjadi viral di media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi pariwisata telah memasuki era baru, yaitu era komunikasi berbasis algoritma.
Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube telah menjadi ruang utama dalam membentuk persepsi masyarakat terhadap sebuah destinasi. Foto, video pendek, ulasan pengguna, dan rekomendasi digital menjadi sumber utama bagi wisatawan dalam menentukan pilihan perjalanan.
Namun, di balik fenomena viral tersebut terdapat mekanisme algoritma yang bekerja secara tidak terlihat. Algoritma menentukan konten apa yang muncul, siapa yang melihatnya, dan seberapa luas informasi tersebut menyebar.
Kajian komunikasi digital menjelaskan bahwa algoritma bukan sekadar alat teknis, tetapi memiliki peran dalam mengatur arus informasi. Dalam konteks pariwisata, algoritma dapat menentukan tingkat visibilitas sebuah destinasi melalui sistem rekomendasi dan pengelompokan preferensi pengguna.
Persoalannya, popularitas digital tidak selalu sama dengan kualitas pengalaman wisata.
Sebuah destinasi dapat menjadi terkenal karena konten visual yang menarik, tetapi belum tentu memiliki kesiapan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, atau kapasitas pelayanan yang memadai.
Di sinilah muncul tantangan komunikasi pariwisata modern. Bagaimana membangun citra destinasi yang tidak hanya viral, tetapi juga berkelanjutan?
Komunikasi pariwisata tidak boleh hanya mengejar jumlah tayangan dan interaksi digital. Lebih dari itu, komunikasi harus mampu membangun pemahaman publik mengenai nilai sebuah destinasi.
Dalam konteks Indonesia, tantangan ini sangat penting karena banyak destinasi memiliki kekayaan alam dan budaya yang membutuhkan narasi lebih mendalam. Sebuah desa wisata tidak hanya membutuhkan promosi visual, tetapi juga cerita mengenai masyarakat, tradisi, sejarah, dan nilai lokal.
AI sebenarnya dapat membantu proses tersebut. Sistem AI mampu menganalisis tren wisatawan, memahami pola pencarian, serta membantu menghasilkan strategi komunikasi yang lebih tepat sasaran.
Namun, penggunaan AI juga harus disertai kesadaran kritis. Jika hanya mengikuti logika algoritma, destinasi wisata dapat terjebak dalam budaya popularitas sesaat.
Destinasi yang tidak memiliki nilai komersial tinggi tetapi memiliki nilai budaya penting berpotensi kurang mendapatkan perhatian karena tidak sesuai dengan preferensi algoritmik.
Karena itu, komunikasi pariwisata masa depan membutuhkan pendekatan yang lebih manusiawi. Teknologi harus digunakan bukan hanya untuk membuat destinasi terlihat, tetapi juga membuat destinasi dipahami.
Wisata yang baik bukan hanya wisata yang viral, tetapi wisata yang memiliki makna.


