Oleh: Nora Akbarsyah, Nessya Anggraeni
Program Studi Perikanan Laut Tropis K. Pangandaran, FPIK Unpad, PSDKU Unpad Pangandaran

Pangandaran — Sebuah kajian mengenai kondisi sosial-ekonomi nelayan di Pangandaran menunjukkan adanya dinamika menarik dalam aspek akses informasi dan pemberdayaan. Nelayan drift gillnet di Desa Pananjung, Kabupaten Pangandaran, ternyata telah memiliki tingkat keterhubungan yang cukup baik dengan informasi, pasar, dan berbagai program pemberdayaan perikanan. Namun, di balik kondisi tersebut, masih terdapat satu pekerjaan rumah penting: penguatan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola keuangan rumah tangga nelayan.
Temuan tersebut diperoleh dari survei terhadap 33 nelayan drift gillnet di Pananjung yang dilakukan pada awal 2026 oleh Dosen Program Studi Perikanan Laut Tropis, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran bersama mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan indeks GESI (Gender Equality and Social Inclusion) dengan 16 pertanyaan yang menggambarkan akses informasi, pengetahuan, pelatihan, akses keuangan, pasar, dukungan kelembagaan, serta keterlibatan nelayan dalam proses pengambilan keputusan.
Secara keseluruhan, indeks menunjukkan nilai rata-rata 2,88 pada skala 1–4, yang termasuk kategori tinggi. Artinya, secara umum nelayan telah cukup inklusif dalam memperoleh informasi dan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas pemberdayaan perikanan.
Aspek yang paling menonjol adalah akses terhadap pasar. Indikator mengenai pengetahuan ke mana harus menjual hasil tangkapan memperoleh skor 4 atau sangat tinggi. Begitu pula akses terhadap pasar yang menguntungkan memperoleh skor 4. Rata-rata ketiga indikator pasar mencapai 3,67, menjadi dimensi terkuat dalam penelitian ini.
“Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan nelayan bukan semata-mata mengenai akses terhadap pasar. Nelayan sudah memiliki pengetahuan dan jaringan yang relatif baik untuk memasarkan hasil tangkapannya,” demikian gambaran yang dapat ditarik dari hasil survei.

Kondisi berbeda terlihat pada aspek pengelolaan keuangan. Pernyataan mengenai pelatihan pengelolaan keuangan keluarga nelayan hanya memperoleh skor 1 atau sangat rendah. Sementara itu, akses terhadap usaha alternatif di luar musim melaut juga masih rendah dengan skor 2.
Temuan tersebut penting karena pendapatan nelayan memiliki karakteristik yang tidak selalu stabil. Hasil tangkapan dapat berubah mengikuti musim, cuaca, kondisi sumber daya ikan, dan harga pasar. Dalam situasi seperti ini, kemampuan mengatur pendapatan, menabung ketika musim tangkap baik, mengendalikan pengeluaran, serta merencanakan kebutuhan keluarga menjadi sama pentingnya dengan kemampuan menangkap dan menjual ikan.
Di sisi lain, keterlibatan kelembagaan menunjukkan kondisi yang relatif positif. Lima indikator terkait bantuan fasilitas, pertemuan kelompok, musyawarah desa, penyampaian pendapat kepada penyuluh, dan pengambilan keputusan rumah tangga seluruhnya memperoleh skor 3 atau kategori tinggi.
Hasil penelitian ini memberikan pesan bahwa pemberdayaan nelayan ke depan perlu bergerak dari sekadar “memberi akses” menjadi “memperkuat kapasitas”. Nelayan tidak hanya membutuhkan alat tangkap, informasi cuaca, akses pasar, dan bantuan fasilitas, tetapi juga membutuhkan kemampuan mengelola manfaat ekonomi yang diperoleh dari aktivitas penangkapan ikan.
Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, penyuluh perikanan, koperasi, kelompok nelayan, dan mahasiswa dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat literasi keuangan masyarakat nelayan. Dengan demikian, peningkatan pendapatan dari sektor perikanan tidak berhenti pada bertambahnya hasil tangkapan, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi ketahanan ekonomi keluarga nelayan yang lebih kuat.

Penelitian ini menjadi bagian dari upaya Dosen Perikanan Laut Tropis FPIK Universitas Padjadjaran bersama mahasiswa untuk melihat pemberdayaan nelayan dari perspektif yang lebih luas: bukan hanya seberapa banyak nelayan mendapatkan bantuan, tetapi seberapa jauh mereka memperoleh kesempatan, pengetahuan, dan kemampuan untuk menentukan masa depan ekonominya sendiri.
Keywords: Nelayan Drift Gillnet; Inklusivitas Nelayan; Literasi Keuangan; Pemberdayaan Nelayan; Pangandaran.


