Oleh: Naurah Lisnarini, M.I.Kom
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi K. Pangandaran Unpad

Pangandaran dikenal sebagai tempat wisata yang terdapat hamparan pantai, ombak untuk berselancar serta hidangan laut yang menggugah selera. Selama bertahun-tahun, citra tersebut berhasil menempatkan Pangandaran sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Jawa Barat. Namun di tengah perubahan tren pariwisata apakah Pangandaran akan mulai membangun pengalaman wisata yang lebih beragam?
Laporan Global Wellness Institute menunjukkan bahwa wellness tourism menjadi salah satu sektor pariwisata dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Wisatawan kini tidak hanya mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang mampu meningkatkan kesehatan fisik, mental dan emosional. Mereka rela bepergian untuk mengikuti yoga retreat, meditasi, terapi alam, hingga aktivitas yang membantu mereka melepaskan diri dari rutinitas dan tekanan kehidupan.
Namun potensi ini belum banyak dibicarakan dalam pengembangan pariwisata Pangandaran. Padahal, daerah ini memiliki modal yang sangat kuat untuk menjadi bagian dari tren tersebut. Pantai yang tenang pada pagi hari, kawasan konservasi, udara segar dan keindahan alam yang beragam menghadirkan ruang ideal untuk aktivitas wellness seperti yoga di alam terbuka.
Perlu dipahami bahwa yang dijual dari aktivitas ini bukanlah yoga semata karena sebenarnya dapat dilakukan di studio, pusat olahraga bahkan di rumah. Uniknya, yang membedakan Pangandaran adalah pengalaman berlatih yoga dengan iringan suara ombak, merasakan hembusan angin pantai atau mengawali pagi dengan matahari terbit (sunrise) di tepi laut memberikan sensasi yang tidak dapat digantikan oleh ruang tertutup. Alam menjadi bagian dari proses pemulihan, bukan sekadar latar belakang aktivitas.
Pengalaman inilah yang memiliki nilai paling tinggi karena pariwisata saat ini tidak lagi menjual destinasi, tetapi menjual pengalaman. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat, melainkan untuk merasakan. Mereka ingin membawa pulang cerita, bukan sekadar foto. Inilah yang dikenal sebagai experiential communication. Sebuah destinasi membangun citranya melalui pengalaman yang dialami wisatawan dan kemudian dibagikan kepada orang lain. Ketika seseorang mengunggah momen yoga di Pantai Pangandaran saat matahari terbit, yang dipromosikan bukan hanya keindahan pantainya. Narasi yang tersampaikan adalah pesan bahwa Pangandaran merupakan tempat untuk menenangkan diri, memulihkan energi dan menemukan keseimbangan hidup. Pesan seperti ini jauh lebih kuat dibandingkan slogan promosi yang dibuat secara formal.
Menariknya, praktik yoga di kawasan Pangandaran sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Pada tahun 2026 misalnya aktivitas yoga kerap hadir di Pantai Batukaras melalui berbagai kegiatan yang diselenggarakan secara insidental. Beberapa penyelenggara open trip dari Jakarta, Bogor, Bandung maupun Tasikmalaya memasukkan sesi yoga di tepi pantai sebagai bagian dari paket perjalanan mereka. Bahkan, tidak jarang wisatawan mancanegara yang tinggal agak lama di Batukaras membuka kelas yoga di salah satu kafe selama disini. Fenomena ini menunjukkan bahwa minat terhadap yoga di alam sebenarnya telah ada. Namun, aktivitas tersebut masih bergantung pada inisiatif wisatawan atau komunitas dari luar Pangandaran, sehingga belum berkembang menjadi program yang berkelanjutan dan dikelola oleh masyarakat lokal.
Menurut perspektif komunikasi pariwisata, fenomena tersebut menarik untuk dicermati sebab yang sedang terjadi bukan sekadar penyelenggaraan kelas yoga, melainkan proses pembentukan makna sebuah destinasi. Selama aktivitas yoga masih bersifat insidental dan bergantung pada pihak luar, Pangandaran hanya menjadi lokasi berlangsungnya kegiatan. Padahal apabila dikelola secara rutin oleh masyarakat lokal, yoga dapat berkembang menjadi identitas destinasi (destination branding) yang membedakan Pangandaran dari kawasan pantai lainnya. Seperti daerah di Pangandaran yakni Batukaras yang terkenal sebagai tempat surfing, kebanyakan yang menjadi pelatihnya adalah masyarakat lokal.
Di era media sosial, wisatawan bahkan telah menjadi komunikator utama sebuah destinasi. Konten yang mereka unggah sering kali lebih dipercaya dibandingkan iklan resmi. Karena itu, membangun pengalaman yang autentik menjadi investasi komunikasi yang jauh lebih penting daripada sekadar memperbanyak materi promosi. Pangandaran sebenarnya tidak perlu mengubah identitasnya sebagai destinasi pantai. Selama ini komunikasi pariwisata masih didominasi oleh wisata bahari dan panorama alam. Padahal, kekayaan alam tersebut juga dapat menjadi ruang untuk aktivitas wellness yang sedang diminati masyarakat, terutama Gen Z.
Pengembangan yoga outdoor dapat dipadukan dengan berbagai potensi lokal lainnya, seperti kuliner sehat berbasis hasil laut, jalur trekking di kawasan alam, meditasi di ruang terbuka, hingga aktivitas budaya yang memberikan ketenangan. Kombinasi tersebut akan memperkaya pengalaman wisata tanpa menghilangkan karakter asli Pangandaran.
Tentu saja, membangun wellness tourism tidak cukup hanya dengan menyelenggarakan kelas yoga. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas yoga, akademisi, serta masyarakat lokal untuk merancang pengalaman yang berkualitas dan berkelanjutan. Komunikasi yang dibangun pun harus konsisten. Website destinasi, media sosial, video pendek, hingga cerita wisatawan perlu mengarah pada satu pesan yang sama: Pangandaran adalah tempat untuk menikmati alam sekaligus memulihkan diri.
Pada akhirnya, daya saing destinasi wisata tidak lagi ditentukan semata oleh seberapa indah pemandangannya, tetapi oleh seberapa bermakna pengalaman yang mampu diberikan kepada wisatawan. Alam Pangandaran telah menyediakan panggung yang luar biasa. Kini saatnya komunikasi pariwisata menghadirkan narasi baru yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Yoga mungkin hanyalah sebuah aktivitas namun ketika dipadukan dengan kekuatan alam Pangandaran, ia dapat menjadi simbol perubahan cara memandang pariwisata. Dari sekadar destinasi untuk berlibur menjadi destinasi untuk kembali menemukan keseimbangan hidup. Di tengah masyarakat yang semakin akrab dengan kelelahan, stres, dan tekanan hidup, pengalaman seperti inilah yang sesungguhnya sedang dicari wisatawan.


