Oleh: Pringgo Kusuma Dwi Noor Yadi Putra, S.Pi., M.Si.
Dosen Prodi Perikanan Laut Tropis, PSDKU UNPAD Pangandaran
Di bawah permukaan laut, terdapat “petugas kebersihan” yang bekerja tanpa henti. Mereka bukan manusia, melainkan ikan-ikan herbivora yaitu kelompok ikan pemakan alga seperti parrotfish (ikan kakatua), baronang (rabbitfish) dan beberapa surgeonfish. Saat terumbu karang sehat, alga tetap terkendali, ruang bagi karang untuk tumbuh tersedia, dan anak-anak ikan punya tempat untuk berlindung. Namun, ketika “penjaga” ini berkurang, perubahan besar dapat terjadi, seperti alga tumbuh lebih cepat, karang sulit pulih karena adannya perubahan alam, dan produktivitas perikanan karang perlahan menurun.

(Sumber: Wikimedia Commons, CC BY-SA – https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Parrot_fish_herbivory.jpg)
Masalahnya, perubahan tersebut sering tidak terasa seperti bencana yang datang mendadak. Ia berjalan pelan, halus, dan diam-diam, sampai suatu hari nelayan berkata, “Ikan masih ada, tapi kok kecil-kecil ya?” atau “Sekarang harus lebih jauh untuk dapat hasil yang sama.” Pada titik tersebut, terumbu sebenarnya sedang memberi sinyal bahwa kesiembangan ekosistem mulai goyah.
Mengapa ikan herbivora begitu penting? Karena di ekosistem terumbu, karang dan alga seperti dua tetangga yang berebut lahan. Jika alga dibiarkan berlebihan, ia bisa menutupi substrat, menghambat penempelan larva karang, dan mengganggu pertumbuhan karang muda. Herbivora membantu “membuka ruang” dengan memangkas alga sehingga karang punya peluang untuk pulih, terutama setelah terumbu mengalami tekanan seperti pemutihan (bleaching), badai, atau kerusakan fisik lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa intinya bukan pada jumlah spesies herbivora, tetapi juga fungsi dan keragaman sifat (trait diversity) yang mereka miliki. Ada yang ahli merumput (grazing) turf algae, ada yang memangsa makroalga, ada yang membersihkan sedimen. Ketika satu fungsi hilang karena penangkapan selektif, efeknya bisa terasa pada kemampuan terumbu untuk bangkit [1].
Di beberapa wilayah pesisir, ikan herbivora juga menjadi bagian dari tangkapan nelayans etiap harinya. Hal ini dikarenakan: mereka tersedia, ada pasarnya, dan menjadi sumber pendapatan. Namun di sinilah jebakannya: ketika tekanan tangkap terhadap herbivora meningkat maka terumbu bisa kehilangan “mesin perawatannya”, tepat pada saat terumbu juga sedang tertekan oleh perubahan iklim dan penurunan kualitas lingkungan pesisir. Akibatnya, pemulihan karang akan semakin melambat dan kondisi terumbu cenderung lebih mudah bergerak menuju dominasi alga.
“Lalu bagaimana? apakah melarang total penangkapan ikan herbivora?”. Jawaban adalah: tidak sesederhana itu. Larangan total sering sulit diterapkan karena memiliki ririko memicu konflik atau pergeseran tekanan tangkap ke spesies lainnya. Namun, kita memiliki pilihan yang lebih masuk akal, yaitu mengurangi risiko dengan aturan sederhana, berbasis ilmu, dan disepakati bersama.
Ada batas penting yang tidak boleh dilewati. Studi pemodelan dan analisis trade-off menunjukkan bahwa resiliensi terumbu karang bisa tetap terjaga jika tingkat penangkapan ikan herbivora dijaga rendah dan disertai dengan aturan ukuran minimum. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa terumbu masih dapat relatif “tahan” ketika porsi penangkapan terhadap biomassa dan ukuran ikan herbivora dijaga tetao minimum [2]. Ini memberi pesan kebijakan yang jelas bahwa persoalannya bukan “boleh atau tidak boleh”, melainkan “berapa banyak” dan “berapa ukuran” yang boleh ditangkap.
Lalu bagaimana menerjemahkannya untuk kebijakan lokal yang realistis?
- Pertama, tetapkan aturan ukuran minimum tangkap. Ikan-ikan herbivora kecil sebaiknya dibiarkan untuk tumbuh dan bereproduksi. Ukuran minimum jauh lebih mudah dipahami nelayan dibandingkan dengan aturan yang terlalu teknis sehingga dampaknya nyata terhadap regenerasi stok.
- Kedua, lindungi lokasi penting secara cerdas (buka – utup). Tidak semua area harus ditutup permanen. Menutup sementara area tertentu pada musim pemijahan atau di nursery ground, lalu dibuka kembali. Hal tersebut sering lebih dapat diterima karena nelayan tetap punya akses, tetapi ekosistem diberi waktu untuk memulihkan diri.
- Ketiga, kombinasikan aturan perikanan dengan intervensi pengelolaan yang terbukti dapat meningkatkan biomassa herbivora. Bukti dari studi lintas intervensi manajemen menunjukkan bahwa regulasi, pembatasan alat tangkap, dan kawasan perlindungan (dengan desain yang tepat) dapat menaikkan biomassa herbivora seperti parrotfish yang pada gilirannya membantu menekan makroalga [3].
- Keempat, jangan lupa: herbivori bukan hanya “urusan ikan”. Ada konteks yang lebih luas. Upaya di laut akan jauh lebih efektif jika sejalan dengan pengendalian tekanan dari darat, misalnya limbah, sedimentasi, dan pencemaran yang mempercepat pertumbuhan alga. Banyak penelitian menekankan sinergi antara pengelolaan berbasis laut dan darat untuk menjaga peluang terumbu tetap berada pada kondisi “sehat” atau setidaknya tidak terjerumus lebih jauh [4].
Perikanan karang bergantung pada terumbu yang berfungsi, dan terumbu yang berfungsi bergantung pada “penjaga” seperti ikan herbivora. Jika kita kehilangan mereka, yang hilang bukan hanya satu kelompok ikan, melainkan “sistem pendukung” yang menjaga produktivitas perairan pesisir.
Kita jangan sampai menunggu hingga terumbu benar-benar runtuh baru bertindak. Justru karena perubahan itu terjadi secara perlahan maka responsnya harus lebih cepat: aturan ukuran minimum, buka – tutup berbasis musim, perlindungan fungsi ikan herbivora, dan pengendalian tekanan dari darat. Dengan langkah-langkah tersebut maka kita sedang memastikan laut tetap menjadi sumber hidup. Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa yang akan datang.
Sumber Referensi
[1] Pombo-Ayora L, Coker DJ, Carvalho S, Short G, Berumen ML. Morphological and ecological trait diversity reveal sensitivity of herbivorous fish assemblages to coral reef benthic conditions. Mar Environ Res 2020;162:105102. https://doi.org/10.1016/j.marenvres.2020.105102.
[2] Bozec Y-M, O’Farrell S, Bruggemann JH, Luckhurst BE, Mumby PJ. Tradeoffs between fisheries harvest and the resilience of coral reefs. Proceedings of the National Academy of Sciences 2016;113:4536–41. https://doi.org/10.1073/pnas.1601529113.
[3] Donovan MK, Counsell CWW, Donahue MJ, Lecky J, Gajdzik L, Marcoux SD, et al. Evidence for managing herbivores for reef resilience. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences 2023;290. https://doi.org/10.1098/rspb.2023.2101.
[4] Gove JM, Williams GJ, Lecky J, Brown E, Conklin E, Counsell C, et al. Coral reefs benefit from reduced land–sea impacts under ocean warming. Nature 2023;621:536–42. https://doi.org/10.1038/s41586-023-06394-w.


