Aksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Unpad dan BKS PTN-Barat Pasang Sabuk Hijau dengan Pohon Mangrove di Pesisir Nusantara.

Oleh: Lady Ayu Sri Wijayanti, S.Pi., M.Sc.
Dosen / Universitas Padjadjaran

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada Jumat, 05 Juni 2026, menjadi momentum penting bagi Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mengambil tindakan konkret dalam mitigasi perubahan iklim. Berkolaborasi dalam gerakan serentak bersama Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Negeri Wilayah Barat (BKS PTN-Barat), Unpad memfokuskan aksinya pada penyelamatan kawasan pesisir melalui pemasangan “sabuk hijau” lewat penanaman ratusan pohon mangrove.

Gerakan berskala besar ini diinisiasi oleh Forum Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) BKS PTN-Barat, sebagai bentuk implementasi nyata dari Surat Edaran Kementerian Lingkungan Hidup Nomor 09 Tahun 2026. Mengusung tema global “Inspired by Nature, For Climate, For Our Future”, aksi ini menekankan pentingnya solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) dalam memulihkan ekosistem pesisir Nusantara yang rentan.

Gerakan Masif Seluruh Wilayah Barat Indonesia

Melalui aksi serentak ini, berbagai Perguruan Tinggi Negeri di wilayah barat Indonesia meleburkan sekat geografis demi satu visi bersama: “Menabur Benih Kehidupan, Merajut Masa Depan.” Langkah ini menegaskan bahwa perguruan tinggi harus menjadi pelopor dalam gerakan penyelamatan bumi. Pesan kuat tersebut disampaikan secara lugas melalui poster resmi kegiatan yang menjadi panduan nasional untuk menggerakkan aksi kolaboratif ini di berbagai daerah.

Poster resmi gerakan kolaborasi nasional Forum LPPM BKS-PTN Barat. Inisiatif ini menandai komitmen masif perguruan tinggi se-wilayah barat Indonesia untuk aksi iklim serentak pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, dengan fokus menanam pohon produktif, konservasi, dan khas daerah.

Di koridor selatan Jawa Barat, Unpad mengambil peran sentral dengan memfokuskan aksi di kawasan strategis Pangandaran, khususnya di Pesisir Bojongsalawe. Kawasan ini dipilih karena karakteristik pantai selatan Jawa yang berhadapan langsung dengan samudra lepas menuntut adanya sistem proteksi ekologis yang tangguh. Oleh karena itu, aksi ini didesain khusus dengan pendekatan lokal yang kuat—memadukan kepakaran akademis dengan kearifan masyarakat setempat—sehingga diharapkan mampu menjadi blueprint nyata yang dapat menginspirasi wilayah pesisir lainnya di Indonesia

Poster resmi pendukung dari Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk aksi spesifik di Kawasan Pesisir Bojongsalawe, Pangandaran. Aksi ini memfokuskan sepenuhnya pada penanaman mangrove sebagai sabuk hijau pelindung pesisir selatan Jawa Barat dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs)

Benteng Karbon Biru di Selatan Jawa

Eksekusi penanaman 200 bibit mangrove di Kawasan Pesisir Bojongsalawe, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran ini secara ilmiah merupakan langkah strategis yang sangat krusial. Ekosistem mangrove diakui secara global sebagai penyimpan Karbon Biru (Blue Carbon) yang jauh lebih efektif menyerap emisi karbon dibandingkan hutan daratan. Di samping itu, jalinan akar mangrove (Rhizophora sp.) bertindak sebagai perisai alami yang tangguh untuk menahan abrasi ombak pantai selatan yang terkenal ganas, mencegah intrusi air laut, serta menjadi tempat pemijahan (nursery ground) bagi berbagai biota laut.

Semangat membangun sabuk hijau ini juga bergema secara serentak di berbagai penjuru barat Indonesia. Berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang tergabung dalam BKS PTN-Barat turut mengeksekusi gerakan serupa di wilayah masing-masing dengan menanam ribuan pohon konservasi dan tanaman khas lokal. Langkah kolektif ini menegaskan bahwa pemulihan lingkungan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menjadi komitmen massal yang terintegrasi di seluruh Nusantara.

Kekuatan utama dari gerakan kolaborasi ini adalah keterlibatan massal berbagai elemen, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum yang turun langsung ke lapangan.

Foto bersama seluruh peserta aksi di Pesisir Bojongsalawe, Pangandaran. Puluhan mahasiswa (kemeja biru), staf akademik, masyarakat lokal, perangkat desa, DKPKP berdiri bersatu di belakang spanduk kolaborasi Forum LPPM BKS-PTN Barat, menunjukkan besarnya skala komitmen kolektif ini di lapangan.

Kolaborasi Nyata Akademisi dan M Lokal Pangandaran

Keberhasilan gerakan di Pangandaran ini tidak lepas dari sinergi kuat lintas sektor (pentahelix). Unpad menerjunkan pimpinan terasnya untuk mengawal langsung aksi berlumpur di lapangan. Hadir dalam kegiatan tersebut:

  • Prof. Alexander M. Khan, S.Pi., M.Si., Ph.D. (Kepala Kantor PSDKU Unpad Pangandaran)
  • Irfan Zidni, S.Pi., MP., Ph.D. (Kepala Pusat Pengembangan Pengabdian Kepada Masyarakat)
  • Dr. Eng. Uji Pratomo, M.Si. (Kepala Kantor Kawasan Sains dan Teknologi)

Jajaran Pimpinan dari Direktorat Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Inovasi (DRHPM) Unpad bersama Ketua Program Studi Perikanan Laut Tropis dan para dosen pun turut membaur bersama mahasiswa di area konservasi.

Rangkaian aksi nyata di lapangan (kiri: Penyerahan simbolis bibit mangrove kepada perangkat desa dan tokoh masyarakat, tengah: Bibit mangrove yang siap ditanam di area konservasi, kanan: Jajaran pimpinan Unpad turun langsung menanam di lumpur pesisir)

Lebih dari sekadar aksi kampus, esensi sejati dari gerakan ini adalah keterlibatan masyarakat lokal. Aksi ini didukung penuh oleh Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DKPKP) Kabupaten Pangandaran, Sekretaris Desa Bojongsalawe beserta jajaran perangkat desa, dan BUMDes setempat.

Sorotan khusus dan apresiasi tinggi diberikan kepada Bapak Gito, sosok tokoh masyarakat pesisir yang selama ini konsisten dan berdedikasi tinggi menjaga kelestarian mangrove di Bojongsalawe. Kehadiran figur penggerak lokal seperti Pak Gito menjadi jaminan bahwa ratusan bibit yang ditanam hari ini akan terus dirawat dan dipantau pertumbuhannya hingga menjadi hutan mangrove yang kokoh.

Melalui aksi serentak pasang sabuk hijau ini, Unpad bersama BKS PTN-Barat sedang mengirimkan pesan yang kuat: mitigasi krisis iklim menuntut tindakan nyata hari ini (#NowForClimate). Satu bibit mangrove yang tertanam di Bojongsalawe hari ini adalah investasi peradaban untuk lingkungan yang lebih hijau, lestari, dan berkelanjutan bagi generasi masa depan Nusantara.

Tags

Share this post:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cari, Jelajahi, Temukan