Nelayan Bojongsalawe Punya Modal Sosial yang Kuat, Saatnya Memperkuat Ekonomi Keluarga

Oleh: Nora Akbarsyah, Nessya Anggraeni
Program Studi Perikanan Laut Tropis K. Pangandaran, FPIK Unpad, PSDKU Unpad Pangandaran

Pangandaran — Kehidupan nelayan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas melaut dan hasil tangkapan. Kemampuan memperoleh informasi, mengakses lembaga keuangan, memahami pasar, mengikuti program pemberdayaan, hingga mengambil keputusan di tingkat rumah tangga menjadi bagian penting dalam menentukan ketahanan ekonomi keluarga nelayan.

Gambaran tersebut terlihat dari hasil survei yang dilakukan terhadap 32 nelayan drift gillnet di Bojongsalawe, Kabupaten Pangandaran, pada awal 2026. Kajian ini dilaksanakan oleh Dosen Program Studi Perikanan Laut Tropis, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran bersama mahasiswa dengan menggunakan pendekatan indeks GESI (Gender Equality and Social Inclusion).

Sebanyak 16 pertanyaan digunakan untuk melihat sejauh mana nelayan memperoleh kesempatan dan manfaat dari proses pemberdayaan. Pertanyaan mencakup aspek informasi penangkapan, keterampilan, kondisi cuaca dan musim, pelatihan, akses keuangan, pemasaran hasil tangkapan, dukungan kelembagaan, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan.

Hasil pengukuran menghasilkan nilai rata-rata 2,875 pada skala 1–4. Nilai tersebut berada dalam kategori tinggi. Secara umum, temuan ini memperlihatkan bahwa nelayan drift gillnet di Bojongsalawe telah memiliki tingkat keterlibatan dan akses yang cukup baik terhadap berbagai sumber informasi maupun aktivitas yang mendukung kegiatan perikanan.

Salah satu kekuatan yang terlihat adalah hubungan nelayan dengan informasi dan aktivitas pemasaran. Pengetahuan mengenai lokasi penjualan hasil tangkapan memperoleh nilai 4 atau sangat tinggi. Demikian pula persepsi mengenai akses terhadap pasar yang menguntungkan mencapai nilai 4. Pengetahuan mengenai harga ikan di pasar lokal maupun luar daerah juga berada pada kategori tinggi dengan nilai 3.

Artinya, nelayan tidak sepenuhnya berada dalam posisi pasif ketika berhadapan dengan pasar. Mereka telah memiliki pengetahuan mengenai ke mana ikan dijual, bagaimana perkembangan harga, serta peluang memperoleh pasar yang lebih menguntungkan.

Namun, hasil survei juga memperlihatkan adanya ruang yang cukup besar untuk memperkuat kapasitas ekonomi rumah tangga. Indikator mengenai pelatihan pengelolaan keuangan keluarga nelayan memperoleh nilai paling rendah, yaitu 1 atau sangat rendah. Sementara itu, kesempatan memperoleh pelatihan usaha alternatif di luar musim melaut hanya berada pada nilai 2 atau kategori rendah.

Temuan ini patut menjadi perhatian. Nelayan dapat memiliki akses pasar yang baik, tetapi manfaat ekonomi dari aktivitas tersebut belum tentu optimal apabila belum diikuti kemampuan mengatur pendapatan dan pengeluaran keluarga. Pendapatan dari kegiatan penangkapan ikan juga bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh musim, cuaca, hasil tangkapan, serta perubahan harga ikan.

Menariknya, aspek partisipasi sosial dan kelembagaan justru menunjukkan kondisi yang relatif baik. Keterlibatan dalam pertemuan kelompok nelayan, musyawarah desa terkait program perikanan, penyampaian pendapat kepada penyuluh, hingga keterlibatan dalam keputusan rumah tangga mengenai hasil tangkapan semuanya memperoleh nilai 3 atau kategori tinggi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa modal sosial nelayan Bojongsalawe sebenarnya cukup potensial untuk menjadi pintu masuk bagi program pemberdayaan berikutnya. Program tidak harus berhenti pada bantuan sarana produksi atau peningkatan kemampuan teknis melaut, tetapi dapat diarahkan pada penguatan kemampuan mengelola hasil ekonomi dari kegiatan perikanan.

Pelatihan sederhana mengenai pencatatan pemasukan dan pengeluaran, perencanaan keuangan keluarga, tabungan menghadapi musim paceklik, pengelolaan hasil usaha, serta akses pembiayaan yang sehat dapat menjadi materi yang relevan bagi kelompok nelayan.

Bagi perguruan tinggi, pemerintah, penyuluh, koperasi, dan kelompok nelayan, hasil ini memberikan satu pesan penting: pemberdayaan bukan hanya tentang membuka akses, tetapi memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk memanfaatkan akses tersebut secara berkelanjutan.

Kajian yang dilakukan Dosen Perikanan Laut Tropis FPIK Universitas Padjadjaran bersama mahasiswa ini diharapkan dapat menjadi salah satu dasar untuk merancang pendekatan pemberdayaan nelayan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat pesisir Bojongsalawe. Dengan memperkuat pengetahuan teknis sekaligus kapasitas ekonomi keluarga, keberlanjutan usaha perikanan dapat dibangun tidak hanya dari laut, tetapi juga dari kemampuan rumah tangga nelayan mengelola hasil yang diperolehnya.

Keywords: Nelayan Drift Gillnet; Inklusivitas Nelayan; Pemberdayaan Ekonomi; Literasi Keuangan Keluarga; Bojongsalawe Pangandaran.

Tags

Share this post:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cari, Jelajahi, Temukan