Oleh: Suji Abdullah Saleh, SST., M.Sc.
Dosen Prodi Administrasi Keuangan Publik Sekolah Vokasi Unpad
Pertanyaan provokatif ini—”Apakah guru dan dosen merupakan beban negara?”—sering muncul dalam diskusi publik, terutama ketika membahas anggaran pendidikan tahunan yang besar. Dengan porsi minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagaimana diamanatkan konstitusi, sektor pendidikan kerap menjadi sorotan. Di satu sisi, guru dan dosen merupakan ujung tombak pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Namun, di sisi lain, muncul pandangan sinis bahwa mereka hanya menghambur-hamburkan anggaran tanpa menghasilkan output yang sepadan. Pendapat ini berupaya mengurai persoalan dari berbagai sudut pandang—apakah guru dan dosen benar-benar merupakan “beban”, ataukah mereka merupakan “investasi strategis” yang menentukan masa depan bangsa?
1. Pendidikan adalah investasi, bukan beban.
Dari perspektif pembangunan, belanja pendidikan seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang. Guru dan dosen merupakan aktor kunci dalam mempersiapkan generasi yang kompeten, berkarakter, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Tanpa mereka, target pembangunan manusia akan mandek. Beberapa studi, seperti yang dilakukan oleh UNESCO, menunjukkan bahwa peningkatan kualitas guru berkorelasi langsung dengan peningkatan prestasi akademik siswa. Artinya, setiap rupiah yang dibelanjakan untuk mendukung kesejahteraan dan kompetensi pendidik pada akhirnya akan kembali dalam bentuk produktivitas ekonomi di masa depan.
2. Anggaran besar dan output dipertanyakan
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa alokasi dana pendidikan yang besar tidak selalu berkorelasi langsung dengan kualitas lulusan. Di sinilah kritik muncul. Gaji dan tunjangan guru dan dosen memang menghabiskan sebagian besar anggaran, tetapi masalah seperti rendahnya kompetensi pedagogis, kurangnya penelitian berkualitas, dan lemahnya literasi siswa tetap ada. Fenomena ini menunjukkan bahwa negara menanggung biaya yang signifikan tanpa mencapai hasil yang optimal. Kritik ini semakin tajam ketika data menunjukkan bahwa beberapa guru/dosen tidak memperbarui metode pengajaran mereka, jarang terlibat dalam pengembangan diri, atau hanya memenuhi kewajiban administratif tanpa inovasi.
3. Beban atau Aset?
Label “beban negara” tidak adil jika hanya melihat sisi pengeluaran tanpa mempertimbangkan manfaat jangka panjang. Beban sesungguhnya bukanlah gaji yang dibayarkan, melainkan biaya sosial dan ekonomi yang harus ditanggung negara jika para pendidik gagal menjalankan perannya. Jika generasi muda tumbuh tanpa keterampilan abad ke-21—kritis, kreatif, dan kolaboratif—maka biaya untuk mengatasi pengangguran, kejahatan, dan ketergantungan ekonomi akan jauh lebih besar. Dalam konteks ini, guru dan dosen merupakan “aset strategis” yang tak ternilai harganya.
4. Reformasi Peran dan Tuntutan Kinerja
Namun, guru dan dosen tetap perlu menunjukkan kelayakan mereka sebagai sebuah investasi. Reformasi pendidikan tidak terbatas pada kurikulum dan infrastruktur, tetapi juga pada sistem rekrutmen, pengembangan, dan evaluasi kinerja para pendidik. Beberapa langkah yang dapat diambil antara lain: Kita harus memilih hanya pendidik terbaik berdasarkan kompetensi dan integritasnya. Pengembangan profesional berkelanjutan melalui pelatihan, sertifikasi, dan kolaborasi riset. Sistem evaluasi transparan yang menghubungkan kinerja dengan imbalan atau konsekuensi. Jika mekanisme ini diterapkan, publik akan melihat bahwa setiap dolar yang dibelanjakan untuk guru dan dosen benar-benar merupakan investasi yang berkualitas.
5. Mengubah Narasi Publik
Daripada mempertanyakan apakah guru dan dosen merupakan beban negara, akan lebih tepat jika pertanyaannya diubah menjadi “Sudahkah negara memanfaatkan potensi guru dan dosen secara optimal?” Guru dan dosen adalah fondasi peradaban. Mereka bukan sekadar penerima gaji, tetapi juga pembentuk karakter dan kompetensi generasi penerus. Namun, untuk menghapus stigma negatif, para pendidik harus mampu menunjukkan kontribusi nyata mereka—baik dalam hal hasil pembelajaran mahasiswa, kualitas penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
Kesimpulan
Guru dan dosen sungguh akan menjadi “beban” jika hanya sekadar menikmati fasilitas tanpa berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Namun, jika mereka menjalankan perannya secara profesional, inovatif, dan berintegritas, maka gaji dan tunjangan yang mereka terima bukanlah beban, melainkan investasi berharga bagi masa depan bangsa. Bangsa ini membutuhkan guru dan dosen yang tidak hanya hadir di ruang kelas, tetapi juga hadir di hati dan pikiran generasi muda. Sebaliknya, guru dan dosen membutuhkan dukungan negara untuk melanjutkan perkembangan mereka. Sinergi ini akan memastikan bahwa istilah “beban negara” hanya sekadar prasangka dan yang tersisa adalah pengakuan: merekalah pilar utama kesuksesan bangsa.


