Oleh: Syifa Nabilah Subakti Putri, S.P., M.Agr.
Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran
Hujan deras yang membasahi lahan pertanian pesisir kerap membawa serta lebih dari sekadar tanah dan lumpur. Aliran air yang keruh itu menyimpan residu pestisida yang kemudian bermuara di perairan dangkal, tempat nelayan menggantungkan hidup mereka. Banyak yang tidak menyadari bahwa pestisida di lahan pertanian, baik sintetik maupun nabati, memiliki dampak langsung terhadap ekosistem perikanan dan kehidupan masyarakat pesisir.
Pertanian, perikanan, dan penggunaan pestisida adalah tiga mata rantai yang saling terkait serta memengaruhi satu sama lain. Pestisida sintetik selama ini menjadi andalan petani karena efektivitasnya dalam menekan serangan hama, tetapi residunya yang sulit terurai menyisakan masalah lingkungan jangka panjang. Pestisida nabati kerap disebut sebagai solusi ramah lingkungan, meskipun tetap menyimpan risiko jika penggunaannya tidak tepat.
Risiko Pestisida Sintetik
Pestisida sintetik masih menjadi pilihan utama banyak petani dalam mengendalikan serangan hama dan penyakit tanaman. Formulasi kimia yang kuat mampu menurunkan populasi hama dengan cepat, menjaga hasil panen tetap tinggi dan stabil. Namun di balik efektivitas tersebut, terdapat risiko lingkungan yang tidak kecil.
Residu pestisida sintetik memiliki waktu urai yang lama dan sebagian besar senyawa aktifnya tidak hanya menempel di permukaan tanah, tetapi juga terbawa aliran air hujan menuju saluran irigasi, sungai, dan akhirnya perairan pesisir. Kondisi ini menimbulkan kontaminasi pada ekosistem air, menurunkan kadar oksigen terlarut, serta berdampak buruk pada biota akuatik seperti plankton, udang, ikan, dan organisme kecil lain yang menjadi sumber pakan alami.
Selain itu, pestisida sintetik memiliki sifat non-selektif, sehingga tidak hanya membunuh hama sasaran tetapi juga dapat membahayakan organisme non-target seperti serangga penyerbuk, burung pemakan serangga, maupun predator alami hama (Okagu et al., 2023). Dampak bioakumulasi menjadi ancaman lain karena residu yang masuk ke dalam tubuh ikan atau udang dapat terakumulasi di jaringan lemak dan organ. Penelitian bahkan menemukan 44 jenis residu pestisida pada lebih dari 300 sampel ikan konsumsi, mengonfirmasi akumulasi ini dan potensi risikonya bagi kesehatan manusia melalui rantai makanan (Zhao et al., 2024).
Pestisida Nabati Bukan Tanpa Risiko
Pestisida nabati semakin populer sebagai alternatif pengendalian hama karena dianggap lebih aman dan ramah lingkungan. Bahan aktifnya berasal dari berbagai tumbuhan yang mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, saponin, dan minyak atsiri. Menurut Pereira (2025), pestisida nabati memiliki keunggulan utama yaitu mudah terdegradasi di lingkungan dan biasanya hanya meninggalkan residu minimal pada tanaman maupun tanah. Selain itu, pestisida nabati cenderung bersifat selektif, lebih menargetkan serangga herbivora tertentu sehingga relatif aman bagi organisme non-target. Misalnya, beberapa senyawa bekerja sebagai antifeedant atau inhibitor perkembangan serangga hama tanpa menyebabkan kematian langsung bagi predator alami seperti laba-laba atau kepik.
Namun, penggunaan pestisida nabati bukan berarti tanpa risiko. Beberapa senyawa nabati seperti rotenone yang dihasilkan tanaman Derris spp. dan Lonchocarpus spp. memiliki toksisitas tinggi terhadap ikan dan organisme akuatik jika dosisnya melebihi ambang batas (Dalu et al., 2015). Senyawa saponin juga dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut ketika larut dalam air, menimbulkan stres hingga kematian ikan jika terakumulasi di kolam atau muara (Francis et al., 2007). Selain itu, stabilitas pestisida nabati umumnya rendah karena mudah terurai oleh cahaya dan suhu, sehingga petani cenderung meningkatkan frekuensi aplikasi atau dosis. Kebiasaan ini justru dapat meningkatkan risiko toksisitas lingkungan meskipun sifat awalnya lebih aman dibandingkan pestisida sintetik. Maka dari itu penting untuk dilakukan evaluasi potensi risiko dan toksisitasnya sebelum digunakan secara luas.
IPM sebagai Strategi Kunci
Pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (IPM) menjadi kunci penting untuk menyeimbangkan produktivitas pertanian dan keberlanjutan perikanan pesisir. IPM menekankan prinsip penggunaan pestisida sebagai pilihan terakhir, bukan pertama. Petani perlu melakukan pemantauan intensif untuk menentukan ambang ekonomi serangan hama sebelum aplikasi pestisida (FAO, 2017).
Rotasi tanaman, penanaman varietas tahan hama, dan sanitasi lahan dapat menekan populasi hama sejak awal (Ditjenbun, 2020). Pengendalian biologis dengan memanfaatkan predator alami seperti kepik, laba-laba, atau parasitoid juga membantu mengurangi populasi hama tanpa residu kimia. Penggunaan pestisida nabati perlu dilakukan secara bijak dengan dosis dan frekuensi aplikasi sesuai anjuran serta memastikan jarak penyemprotan cukup jauh dari badan air untuk meminimalkan risiko pencemaran. Menanam vegetasi penahan di tepi sawah atau kebun juga penting untuk menyaring aliran air dan mencegah masuknya residu ke sungai dan muara (FAO, 2017).
Menjaga Keseimbangan Lingkungan dan Ekonomi
Pestisida sintetik maupun nabati memiliki risiko bagi ekosistem pesisir, meskipun tingkat dan jenis dampaknya berbeda. Pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (IPM) menjadi strategi penting untuk menjaga keseimbangan antara pertanian dan perikanan. Kolaborasi petani, penyuluh, akademisi, dan pemerintah daerah dibutuhkan untuk memastikan penggunaan pestisida yang aman dan bertanggung jawab. Produktivitas pertanian dapat tetap terjaga tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan keberlanjutan perikanan pesisir jika dikelola dengan bijak.
Referensi:
Dalu, T., Wasserman, R. J., Jordaan, M., Froneman, W. P., & Weyl, O. L. (2015). An assessment of the effect of rotenone on selected non-target aquatic fauna. PLoS ONE, 10(11), e0142140. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0142140
Ditjenbun. (2020). Panduan pengendalian organisme pengganggu tanaman. Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian RI.
FAO. (2017). Integrated pest management (IPM). Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Francis, G., Kerem, Z., Makkar, H. P., & Becker, K. (2002). The biological action of saponins in animal systems: A review. British Journal of Nutrition, 88(6), 587–605. https://doi.org/10.1079/BJN2002725
Pereira, V., Castilho, P. C., & Pereira, J. A. M. (2025). Analysis of the environmental impact of botanical pesticides in soil. Agriculture, 15(10), 1053. https://doi.org/10.3390/agriculture15101053
Okagu, I. U., Okeke, E. S., Ezeorba, W. C. F., Ndefo, J. C., & Ezeorba, T. P. C. (2023). Overhauling the ecotoxicological impact of synthetic pesticides using plants’ natural products: A focus on Zanthoxylum metabolites. Environmental Science and Pollution Research International, 30(26), 67997–68021. https://doi.org/10.1007/s11356-023-27258-wZhao, J., Chen, Q., & Wang, Y. (2024). Monitoring and risk assessment of pesticide residues in fishery products by GC–MS/MS. Foods, 13(4), 53634. https://doi.org/10.3390/foods13040536


