Akhir Tahun dan Ilusi Euforia Bersama

Oleh: Tofa Waluyo Alifya , S.Pt., M.A.B.
Dosen Departemen Administrasi Bisnis FISIP UNPAD

Menjelang akhir tahun, ruang publik di Indonesia dipenuhi euforia. Pusat perbelanjaan ramai, destinasi wisata penuh, dan indikator konsumsi bergerak naik. Bagi banyak pihak, terutama pelaku usaha, akhir tahun adalah puncak harapan karena dapat meningkatkan penjualan dan roda ekonomi berputar lebih cepat. Namun, di balik keramaian itu, terdapat pertanyaan yang patut diajukan: “apakah euforia akhir tahun benar-benar mencerminkan kesehatan ekonomi, atau sekadar ilusi musiman?”

Lonjakan konsumsi akhir tahun kerap ditopang oleh faktor sementra (temporer). Libur panjang, bonus, dan promosi besar-besaran di beberapa area perbelanjaan. Kegiatan ini memang memberi napas bagi sektor ritel, pariwisata, dan transportasi untuk meningkatkan pendapatannya. Namun, ketika konsumsi tumbuh tanpa diimbangi peningkatan produktivitas dan kualitas pekerjaan, dampaknya menjadi tidak merata. Sebagian pelaku usaha meraup untung, sementara kelompok rentan justru menghadapi tekanan harga dan biaya hidup yang meningkat.

Foto: Diskon di beberapa pusat perbelanjaan [Antara.com]

Bagi dunia usaha, akhir tahun sering diperlakukan sebagai arena “mengejar angka”. Diskon agresif dan ekspansi instan menjadi strategi umum. Masalahnya, pendekatan jangka pendek ini berisiko menggerus keberlanjutan bisnis itu sendiri. Margin tertekan, rantai pasok dipaksa bekerja di luar kapasitas, dan tenaga kerja menghadapi beban kerja musiman, untuk jangka panjang, praktik seperti ini justru melemahkan fondasi usaha.

Isu akhir tahun juga menyentuh dimensi tata kelola. Penyerapan anggaran yang dipercepat, misalnya, kerap menjadi simbol keberhasilan administratif. Namun, ketika kecepatan mengalahkan kualitas, risiko inefisiensi dan pemborosan kerap akan ada. Di sini akhir tahun seharusnya dimaknai bukan sebagai garis finis belanja, melainkan titik evaluasi kebijakan, apakah belanja publik dan aktivitas bisnis benar-benar menghasilkan nilai tambah baik bagi bisnis itu sendiri ataupun bagi sosial masyarakat.

Akhir tahun, pada akhirnya, adalah cermin. Ia memantulkan cara kita memaknai pertumbuhan, “apakah sekadar akumulasi nominal transaksi, atau peningkatan kesejahteraan yang lebih merata dan berkelanjutan. Dunia usaha dan pembuat kebijakan diuji untuk tidak larut dalam euforia sesaat, melainkan berani menahan diri, mengevaluasi arah, dan menyiapkan strategi yang lebih kokoh untuk tahun berikutnya.

Share this post:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cari, Jelajahi, Temukan