Di Balik Terdamparnya Hiu Paus di Pangandaran: Mengenal Fenomena Upwelling dan Cara Memanfaatkannya

Oleh: Pringgo Kusuma Dwi Noor Yadi Putra, S.Pi., M.Si.
Dosen Departemen Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNPAD

Gambar Proses upwelling di perairan (sumber: https://www.thegef.org/newsroom/news/coastal-communities-indonesia-protect- coral-reefs-their-good-fortune?utm_source=chatgpt.com)
 

Dalam beberapa tahun terakhir, pesisir selatan Jawa Barat, khususnya di kawasan Pantai Pangandaran dan Batukaras, kerap diwarnai oleh kejadian alam yang menyita perhatian publik. Kita tentu ingat insiden terdamparnya mamalia laut cerdas seperti lumba-lumba, hingga tertangkapnya hiu paus (Whale shark) secara tidak sengaja oleh jaring pukat pantai nelayan setempat.

Kejadian seperti ini sering kali memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Ada yang menganggapnya sebagai kebetulan belaka, satwa yang tersesat, atau bahkan dikaitkan dengan mitos tertentu. Namun, dari kacamata perikanan dan ilmu oseanografi (ilmu kelautan), peristiwa ini adalah indikator nyata dari sebuah proses dinamika alam yang luar biasa penting di perairan. Fenomena alam tersebut bernama upwelling.

Pemahaman yang utuh mengenai upwelling sangatlah penting. Dengan mengetahui apa itu upwelling, bagaimana terjadinya, dan apa fungsinya, masyarakat pesisir terutama nelayan akan dapat memanfaatkan momentum ini dengan optimal, sekaligus secara tidak langsung menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian laut kita.

Memahami Proses Terjadinya Upwelling

Secara bahasa, upwelling dapat diartikan sebagai penaikan massa air laut. Fenomena ini merupakan sebuah proses fisis oseanografi di mana air dari perairan dalam (dasar laut) bergerak naik ke permukaan. Berdasarkan berbagai riset oseanografi, salah satunya dari lembaga riset kelautan maupun publikasi internasional bereputasi seperti Geophysical Research Letters, fenomena upwelling di perairan itu tidak terjadi setiap hari. Fenomena ini memiliki siklus musiman yang dipicu oleh Angin Muson Timur yang umumnya mulai terbentuk dan memuncak pada pertengahan tahun, yakni sekitar bulan Juni hingga September. Namun hal tersebut terus berubah-ubah berdasarkan bagaimana kondisi musim dan cuacanya setiap tahunnya.

Lalu, bagaimana proses naiknya air dari dasar laut ini bisa terjadi? Hal ini bermula dari dampak berhembusnya sebuah angin. Pada bulan-bulan tersebut, tedapat angin muson timur yang cukup kencang secara terus-menerus dan sejajar dengan garis pantai. Hembusan angin ini secara konstan menyapu dan mendorong massa air laut di permukaan menjauhi pantai menuju ke arah laut lepas.

Sesuai dengan hukum fisika dasar tentang keseimbangan volume, kekosongan massa air di permukaan pantai tersebut harus segera diisi. Sebagai gantinya, massa air dari dasar laut yang bersuhu lebih dingin perlahan bergerak naik ke atas permukaan. Pergerakan vertikal inilah yang kita sebut sebagai fenomena upwelling.

Mengapa Upwelling Sangat Penting?

Massa air yang naik dari kedalaman laut bukanlah air biasa. Laut dalam adalah tempat mengendapnya berbagai materi organik seperti sisa-sisa organisme yang telah mati dan membusuk. Akibatnya, air di dasar laut sangat kaya akan zat hara dan nutrisi penting, seperti nitrat, fosfat, dan silikat. Ketika upwelling terjadi, air yang kaya nutrisi ini terangkat ke permukaan dan bertemu dengan cahaya matahari. Pertemuan antara nutrisi yang melimpah dan sinar matahari ini memicu sebuah proses fotosintesis yang masif, menghasilkan “ledakan” populasi fitoplankton (tumbuhan mikroskopis laut).

Seperti sebuah padang rumput yang tiba-tiba tumbuh subur, hamparan fitoplankton ini seketika mengundang datangnya miliaran zooplankton, udang kecil (rebon), serta kawanan ikan pelagis kecil seperti teri dan lemuru. Rantai makanan ini terus berlanjut hingga menarik perhatian para predator puncak.

Di sinilah benang merah dengan kejadian di Pangandaran dan Batukaras bermula. Hiu paus, yang merupakan ikan raksasa penyaring makanan (filter feeder), sangat menyukai plankton dan ikan kecil. Begitu pula lumba-lumba yang aktif berburu ikan pelagis. Mereka datang berbondong-bondong mendekati perairan dangkal pesisir murni karena insting berburu, mengikuti ketersediaan makanan yang melimpah akibat upwelling. Sayangnya, karena terlalu mengejar mangsa di perairan yang dangkal, mereka kerap kehilangan orientasi navigasi, terjebak saat air surut, atau tanpa sengaja menabrak jaring nelayan hingga terdampar. Selain itu, berdasarkan hasil penelitian yang diterbitkan pada jurnal Fish and Fisheries pada tahun 2016, hiu paus muda memiliki kecenderungan melakukan mendekati perairan dangkal untuk mencari makan. Berbeda dengan hiu paus dewasa yang lebih banyak menghabiskan waktunya di perairan dalam.

Memanfaatkan Momentum Upwelling

Bagi masyarakat pesisir, khususnya nelayan, musim upwelling sejatinya adalah berkah alam yang sangat ditunggu. Hal ini dikarenakan bertepatan dengan musim penangkapan ikan. Kelimpahan ikan-ikan kecil yang akan mengundang ikan yang bernilai ekonomis tinggi, seperti cakalang, tongkol, tenggiri, dan layur yang masuk ke wilayah penangkapan (fishing ground) nelayan tradisional.

Nelayan dapat memanfaatkan pengetahuan tentang upwelling ini untuk merencanakan waktu dan lokasi penangkapan yang efektif. Tanda alamiah dari upwelling sebenarnya dapat diamati seperti, suhu air laut terasa lebih dingin dari biasanya, warna air cenderung lebih hijau pekat (akibat klorofil dari plankton), dan terlihatnya aktivitas burung laut yang menyambar ikan di permukaan. Dengan memahami tanda-tanda ini, nelayan dapat menghemat bahan bakar perahu karena tidak perlu mencari ikan terlalu jauh hingga ke tengah laut.

Tantangan Pengelolaan Ramah Lingkungan

Meskipun upwelling membawa dapat mengindikasikan musim penangkapan, momentum ini harus disikapi dengan bijaksana. Upwelling ini mengundang berkumpulnya berbagai jenis biota, dari ikan target tangkapan hingga satwa dilindungi seperti hiu paus, lumba-lumba, dan penyu. Oleh karena itu, aktivitas penangkapan yang tidak dikelola tanpa pemahaman ekologi justru dapat membawa petaka ekologis.

Terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan oleh masyarakat dan pemangku kepentingan (stakeholder). Pertama, nelayan harus menerapkan praktik penangkapan yang selektif dan ramah lingkungan. Hindari penggunaan alat tangkap yang merusak (destructive fishing) dan hindari penggunaan mata jaring yang terlalu kecil. Biarkan ikan-ikan berukuran sangat kecil tetap hidup di laut agar mereka memiliki waktu untuk memijah (bertelur) sehingga dapat menjaga ketersediaan stok ikan untuk masa yang akan datang.

Kedua, perlunya kesadaran tinggi terkait penanganan tangkapan sampingan (bycatch). Jika hiu paus atau lumba-lumba tak sengaja terbelit jaring, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membebaskannya kembali ke laut hidup-hidup dengan aman, bukan malah membawanya ke darat. Edukasi mengenai cara pelepasan satwa raksasa ini harus terus digalakkan oleh instansi terkait ataupun sektor Pendidikan tinggi seperti universitas.

Pada akhirnya, upwelling adalah bukti betapa dinamis dan kayanya laut nusantara. Dengan memahami definisi dan fungsinya, masyarakat dan sekitarnya tidak lagi hanya menjadi penonton atau penyebar mitos saat ada satwa terdampar. Lebih dari itu, pemahaman ini harus menjadi landasan bagi kita semua untuk memanfaatkan potensi laut secara cerdas, meraup untung dari hasil tangkapan yang melimpah, namun tetap merawat dan menjaga kelestarian laut untuk generasi yang akan datang.

Tags

Share this post:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cari, Jelajahi, Temukan