Oleh: Pringgo Kusuma Dwi Noor Yadi Putra, S.Pi., M.Si.
Dosen Prodi Perikanan Laut Tropis, PSDKU UNPAD Pangandaran

(sumber: https://www.thegef.org/newsroom/news/coastal-communities-indonesia-protect-coral-reefs-their-good-fortune?utm_source=chatgpt.com)
Terumbu karang bukanlah sekadar makhluk hidup yang cantik untuk foto wisata di bawah laut. Namun Ia adalah “lumbung pangan” bagi jutaan masyarakat pesisir yang memiliki fungsi sebagai tempat ikan untuk tumbuh, mencari makan, dan berkembang biak. Di Indonesia, perikanan tangkap karang bukanlah pihilan tambahan bagi masyarakat nelayan, melainkan sumber utama protein, pendapatan harian, dan juga penggerak ekonomi daerah. Oleh karena itu, aoabila ketika kita membicarakan tentang perikanan tangkap karang, maka yang sedang dibicarakan sebenarnya adalah masa depan pesisir itu sendiri, yaitu ketahanan pangan, pekerjaan, dan juga stabilitas sosial.
Namun, kita perlu pikirkan kembali: “apakah kita sudah menangkap ikan dengan bijak, atau pelan-pelan kita sedang menguras tabungan alam kita sendiri?”.
Kondisi perikanan tangkap di Indonesia memiliki karakter yang unik. Berbeda dengan perikanan di negara maju yang sudah berfokus pada satu atau dua komoditas saja. Hal ini dikarenakan perikanan tangkap di Indoensia bersifat multi-spesies dan dilakukan skala kecil. Khususnya perikanan tangkap karang, dalam satu hari melaut, nelayan bisa membawa pulang beragam jenis ikan, seperti kerapu, kakap, baronang, ekor kuning, dan ikan konsumsi lainnya. Alat tangkap yang digunakannya pun beragam, mulai dari pancing, jaring, hingga perangkap yang sering kali meneyesuaikan dengan pola musim, cuaca, ataupun kebiasaan lokal. Namun, keragaman ini adalah kekuatan sekaligus tantangan. Kekuatan karena perikanan menjadi fleksibel dan menyerap banyak tenaga kerja. Tantangan karena pengelolaannya tidak semudah hanya “mengatur satu stok ikan”.
Di sinilah pentingnya melihat perikanan karang sebagai bagian dari ekosistem, bukan sekadar aktivitas menangkap. Terumbu karang adalah sistem yang saling terhubung: karang sebagai habitat, alga sebagai kompetitor, ikan sebagai penghuninya sekaligus “pengatur” keseimbangan. Para peneliti telah mennjukkan bahwa ketika tekanan penangkapan terlalu tinggi, terutama terhadap kelompok ikan yang memiliki fungsi ekologis penting, maka terumbu dapat mengalami perubahan besar, dari dominasi karang menjadi dominasi alga. Perubahan ini disebut phase shift, dan berimplikasi panjang, seperti karang sulit pulih karena ketidakseimbangan ekosistem, stok ikan menurun, dan mata pencaharian pesisir ikut tertekan [1,2].
Sayangnya, kerusakan terumbu akibat tekanan perikanan tangkap sering tidak langsung terlihat seperti halnya kebakaran hutan. Ia berjalan pelan dan “diam-diam”. Bisa saja hari ini ikan masih ada, tetapi ukuran makin kecil sheingga nelayan merasa harus menambah jam melaut untuk hasil yang sama. Biaya bensin naik, tenaga terkuras, sementara penghasilan relatif stagnan. Dalam literatur perikanan, kondisi ini sering digambarkan sebagai “gejala” penangkapan berlebih yang berkembang menjadi fishing down atau pergeseran dari ikan bernilai tinggi dan berukuran besar ke ikan yang lebih kecil atau bernilai lebih rendah [3].
Sebagian orang berekasi untuk melakukan penutupan aktifitas penangkapan secara total, tetapi hal tersebut tidak sesederhana itu. Bagi masyarakat pesisir, larangan total tanpa solusi alternatif justru dapat memicu masalah baru, seperti konflik sosial, ekonomi rumah tangga yang runtuh, bahkan praktik penangkapan ilegal karena kebutuhan hidup yang mendesak. Karena itu, jalan keluarnya bukan memilih antara “tangkap” atau “larang” secara tiba-tiba, melainkan membangun sistem yang memungkinkan kita menangkap secara berkelanjutan.
Di banyak kajian internasional, pendekatan yang paling sering direkomendasikan untuk wilayah terumbu adalah pengelolaan perikanan berbasis ekosistem (ecosystem-based fisheries management/EBFM). Tujuannya adalah bukan hanya sekadar “memaksimalkan” tangkapan, namun juga menjaga fungsi ekosistem agar stok ikan tetap pulih dan stabil, sekaligus menjaga kesejahteraan nelayan [4]. Bagaimana bentuk pengelolaan tersebut di tingkat lokal? Tidak harus rumit dan mahal. Banyak langkah yang bisa dimulai dari indikator sederhana dan kesepakatan bersama:
- Pertama, aturan ukuran minimum. Ikan yang terlalu kecil sebaiknya tidak ditangkap agar dapat berkembang biak terlebih dahulu. Ini sederhana, tetapi dampaknya besar untuk regenerasi stok.
- Kedua, pengaturan alat tangkap dan selektivitas. Alat yang merusak habitat atau menangkap terlalu banyak ikan kecil perlu dibatasi. Sebaliknya, alat yang lebih selektif dan ramah habitat perlu diberi ruang dan dukungan.
- Ketiga, sistem zona dan “buka-tutup” berbasis musim atau lokasi. Tidak semua area harus ditutup permanen. Banyak daerah yang ebrahsil menerapkan penutupan sementara di lokasi pemijahan atau nursery ground, lalu dibuka kembali saat stok pulih. Model seperti ini lebih dapat diterima karena nelayan masih memiliki akses, namun dengan ritme untuk menjaga sumber daya ikan.
- Keempat, perlindungan kelompok ikan kunci seperti ikan herbivora. Ikan herbivora membantu menekan pertumbuhan alga sehingga karang punya ruang untuk hidup. Ketika herbivora hilang, alga mudah mendominasi dan resiliensi terumbu menurun.
Kuncinya adalah kolaborasi. Nelayan bukan objek yang harus diatur dari luar, melainkan sebagai aktor utama yang paling memahami tanda-tanda laut: musim, arus, perubahan komposisi ikan, hingga lokasi-lokasi penting. Pemerintah daerah dapat berperan dalam penyusunan aturan, pengawasan yang adil, dan dukungan sarana. Selain itu, akademisi dapat membantu dengan data sederhana: pemantauan ukuran ikan, komposisi tangkapan, dan kondisi karang secara berkala.
Pada akhirnya, terumbu yang sehat adalah investasi jangka panjang: ia menjaga produktivitas perikanan, melindungi pantai, dan menopang ekonomi lokal. Jika kita mengelola dengan bijak dengan aturan yang realistis, berbasis fungsi ekosistem, dan disepakati bersama maka ikan di laut tidak akan habis, dan masyarakat pesisir tidak kehilangan harapan.
Sumber Referensi
[1] Hughes TP. Catastrophes, Phase Shifts, and Large-Scale Degradation of a Caribbean Coral Reef. Science (1979) 1994;265:1547–51. https://doi.org/10.1126/science.265.5178.1547.
[2] Hughes TP, Rodrigues MJ, Bellwood DR, Ceccarelli D, Hoegh-Guldberg O, McCook L, et al. Phase Shifts, Herbivory, and the Resilience of Coral Reefs to Climate Change. Current Biology 2007;17:360–5. https://doi.org/10.1016/j.cub.2006.12.049.
[3] McManus J. Coral reef fishing and coral-algal phase shifts: implications for global reef status. ICES Journal of Marine Science 2000;57:572–8. https://doi.org/10.1006/jmsc.2000.0720.
[4] Weijerman M, Oyafuso ZS, Leong KM, Oleson KLL, Winston M. Supporting Ecosystem-based Fisheries Management in meeting multiple objectives for sustainable use of coral reef ecosystems. ICES Journal of Marine Science 2021;78:2999–3011. https://doi.org/10.1093/icesjms/fsaa194.


