Perikanan Karang dan Alat Tangkap: Selektif atau Menguras?

Oleh: Pringgo Kusuma Dwi Noor Yadi Putra, S.Pi., M.Si.
Dosen Prodi Perikanan Laut Tropis, PSDKU UNPAD Pangandaran

Sumber: Dokumentasi pribadi

Perdebatan tentang perikanan sering kali berputar pada jumlah tangkapan seperti berapa ton ikan didaratkan, berapa nilai jualnya, dan berapa kontribusinya bagi ekonomi pesisir. Namun terdapat satu aspek yang jarang menjadi sorotan publik, padahal dampaknya sangat menentukan masa depan terumbu, yaitu jenis alat tangkap yang digunakan.

Alat tangkap bukan sekadar alat produksi, namun juga menentukan ikan seperti apa yang akan tertangkap, ukuran berapa yang tertangkap, dan bahkan seberapa besar risiko kerusakan habitat yang akan terjadi. Dalam konteks perikanan karang yang bersifat multi-spesies dan kompleks, perbedaan antara alat tangkap selektif dan tidak selektif bisa menjadi pembeda antara keberlanjutan dan degradasi.

Secara sederhana, alat tangkap selektif adalah alat yang lebih spesifik menangkap jenis atau ukuran tertentu, misalnya alat tangkap pancing ulur (handline) yang menargetkan ikan besar pada setiap tangkapannya melalui ukuran mata pancing yang sesuai. Sementara itu, alat tangkap yang tidak selektif cenderung menangkap berbagai spesies dan ukuran sekaligus, termasuk ikan-ikan kecil yang belum sempat bereproduksi. Pada terumbu karang, dampak tambahan yang harus diperhitungkan adalah risiko kerusakan terhadap fisik substrat akibat gesekan atau pemberat.

Penelitian menunjukkan bahwa selektivitas alat tangkap sangat berpengaruh terhadap struktur komunitas ikan karang. Pada dekade terakhir penelitian etrsebut menemukan bahwa penurunan ukuran rata-rata ikan sering berkorelasi dengan penggunaan alat tangkap yang kurang selektif, yang meningkatkan tekanan terhadap ikan-ikan juvenil [1]. Penurunan ukuran ini bukan sekadar soal tampilan ikan yang makin kecil di pasar. Secara biologis, ikan berukuran besar, terutama betina pada beberapa spesies memiliki kontribusi reproduksi jauh lebih tinggi dibandingkan individu kecil. Ketika individu besar hilang lebih dahulu akibat penangkapan intensif, maka potensi pemijahan populasi ikut menurun.

Selain isu ukuran, selektivitas alat tangkap juga berkaitan dengan fungsi ekologis. Biomassa ikan karang menunjukkan bahwa wilayah dengan pengelolaan efektif dan pembatasan alat tangkap tertentu memiliki biomassa ikan yang jauh lebih tinggi dibandingkand engan wilayah tanpa pengaturan [2]. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan yang membatasi atau mengarah pada jenis alat tangkap dapat berkontribusi langsung pada peningkatan stok dan resiliensi ekosistem.

Aspek lainnya adalah ghost fishing atau fenomena ketika alat tangkap ikan yang hilang tetap terus berada didalam perairan dan melukai, menjerat bahkan menjebak ikan lainnya dan akan menjadi sampah. Pada lingkungan terumbu, alat tangkap yang tertinggal/hilang dapat menyebabkan kematian ikan secara sia-sia sekaligus merusak struktur karang. Beberapa kajian terbaru menyoroti pentingnya inovasi desain alat tangkap yang lebih ramah lingkungan untuk mengurangi risiko ini [3].

Namun tentu saja, diskusi tentang alat tangkap tidak bisa dilepaskan dari realitas sosial-ekonominya. Bagi nelayan skala kecil, pilihan alat tangkap sering kali ditentukan oleh keterjangkauan modal dan kebutuhan. Mengganti alat tangkap atau beralih ke metode yang lebih selektif bisa berarti investasi tambahan. Oleh karena itu, pendekatan kebijakan yang efektif bukan semata-mata pelarangan, melainkan insentif dan pendampingan. Terdapat beberapa prinsip yang dapat dipertimbangkan dalam konteks lokal, yaitu:

  • Mendorong penggunaan alat tangkap yang lebih selektif, seperti pancing individu, terutama di area terumbu sensitif.
  • Menetapkan ukuran minimum tangkap sehingga alat tangkap yang terlalu banyak menangkap ikan kecil dapat dievaluasi.
  • Mengembangkan desain alat tangkap ramah lingkungan, termasuk sistem pelepas otomatis pada bubu untuk mencegah ghost fishing.
  • Menyertakan nelayan dalam proses evaluasi alat tangkap, agar solusi tidak bersifat top-down dan lebih mudah diterima.

Pada akhirnya, pertanyaan besar yang harus kita ajukan bukan sekadar “berapa banyak ikan yang bisa ditangkap?”, tetapi “bagaimana cara kita menangkapnya?”. Jika kita mengabaikan selektivitas, kita berisiko mempercepat penurunan ukuran ikan, mengganggu proses reproduksi, dan merusak habitat yang menjadi fondasi perikanan itu sendiri. Namun, jika selektivitas menjadi bagian dari kebijakan dan praktik sehari-hari, maka perikanan tangkap di pesisir masih memiliki peluang untuk tetap produktif tanpa mengorbankan masa depannya.

Sumber Referensi

[1]        Weijerman M, Veazey L, Yee S, Vaché K, Delevaux JMS, Donovan MK, et al. Managing Local Stressors for Coral Reef Condition and Ecosystem Services Delivery Under Climate Scenarios. Front Mar Sci 2018;5. https://doi.org/10.3389/fmars.2018.00425.

[2]        McClanahan TR. Coral reef fish community life history traits as potential global indicators of ecological and fisheries status. Ecol Indic 2019;96:133–45. https://doi.org/10.1016/j.ecolind.2018.08.055.

[3]        Odhiambo L, Kawaka F, Sande J. Ghost gear crisis: the threat of ‘abandoned, lost or otherwise discarded fishing gear’ (ALDFG). Afr J Mar Sci 2025;47:243–55. https://doi.org/10.2989/1814232X.2025.2549575.

Share this post:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cari, Jelajahi, Temukan