Oleh: Syifa Nabilah Subakti Putri, S.P., M.Agr.
Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran
Serangga di kawasan pantai menunjukkan pola aktivitas yang erat kaitannya dengan kondisi lingkungan terbuka. Banyak spesies serangga pesisir beraktivitas pada malam hari untuk menghindari suhu ekstrem dan tekanan predator. Pola ini terbentuk sebagai hasil adaptasi jangka panjang terhadap karakteristik ekosistem pantai.
Serangga nokturnal memanfaatkan cahaya alami seperti bulan dan bintang sebagai petunjuk orientasi. Mekanisme ini berperan penting dalam aktivitas mencari pakan, pasangan, dan tempat berlindung. Kajian ekologi menunjukkan bahwa orientasi berbasis cahaya alami merupakan bagian fundamental dari perilaku serangga malam hari di berbagai habitat terbuka, termasuk kawasan pesisir (Longcore & Rich, 2004).
Perkembangan kawasan pesisir untuk pemukiman dan pariwisata membawa perubahan besar pada kondisi cahaya malam. Lampu jalan, penginapan, dan fasilitas publik menciptakan sumber cahaya buatan dengan intensitas dan spektrum yang berbeda dari cahaya alami. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa cahaya buatan malam dapat mengganggu orientasi serangga nokturnal, menyebabkan ketertarikan berlebihan terhadap sumber cahaya dan perubahan pola aktivitas (Davies et al., 2014).
Gangguan orientasi tersebut berdampak langsung pada perilaku serangga. Individu yang berputar di sekitar lampu menghabiskan energi tanpa memperoleh pakan atau pasangan. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kelelahan dan predasi, serta menurunkan keberhasilan reproduksi. Tekanan yang berlangsung secara terus-menerus berpotensi berkontribusi pada penurunan populasi serangga di habitat yang terpapar cahaya buatan (Owens et al., 2020).
Ekosistem pantai memiliki karakteristik khusus sebagai habitat terbuka dengan sedikit penghalang alami terhadap penyebaran cahaya. Kajian ekologi pantai menunjukkan bahwa organisme kecil seperti serangga sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia, termasuk gangguan pencahayaan buatan (Schlacher et al., 2007). Perubahan komposisi komunitas serangga di kawasan pantai dapat memengaruhi proses ekologi lain, seperti dekomposisi bahan organik dan ketersediaan pakan bagi burung dan organisme pesisir lainnya.
Perubahan perilaku dan kelimpahan serangga di kawasan pantai sering menjadi indikator awal adanya tekanan lingkungan. Penurunan aktivitas serangga nokturnal di area tertentu dapat mencerminkan perubahan kondisi habitat yang tidak selalu terlihat secara langsung. Serangga dengan demikian berperan penting sebagai penanda kesehatan ekosistem pesisir.
Pemahaman mengenai hubungan antara cahaya malam dan perilaku serangga memberikan perspektif baru dalam pengelolaan kawasan pantai. Pengaturan pencahayaan yang lebih ramah lingkungan berpotensi mengurangi gangguan terhadap serangga tanpa menghilangkan fungsi penerangan bagi manusia. Pendekatan tersebut menempatkan serangga sebagai bagian integral dari ekosistem pantai yang perlu diperhatikan dalam pembangunan dan pengelolaan wilayah pesisir.
Referensi:
Davies, T. W., Bennie, J., & Gaston, K. J. (2014). Artificial light pollution: Are shifting spectral signatures changing the balance of species interactions? Global Change Biology, 20(8), 2392–2404. https://doi.org/10.1111/gcb.12166
Longcore, T., & Rich, C. (2004). Ecological light pollution. Frontiers in Ecology and the Environment, 2(4), 191–198. https://doi.org/10.1890/1540-9295(2004)002[0191:ELP]2.0.CO;2
Owens, A. C. S., Cochard, P., Durrant, J., Farnworth, B., Perkin, E. K., & Seymoure, B. (2020). Light pollution is a driver of insect declines. Biological Conservation, 241, 108259. https://doi.org/10.1016/j.biocon.2019.108259
Schlacher, T. A., Dugan, J. E., Schoeman, D. S., Lastra, M., Jones, A., Scapini, F., & McLachlan, A. (2007). Sandy beaches at the brink. Diversity and Distributions, 13(5), 556–560. https://doi.org/10.1111/j.1472-4642.2007.00363.x


