Tikus Sawah dan Rutinitas Manusia di Lahan Pertanian

Oleh: Syifa Nabilah Subakti Putri, S.P., M.Agr. (Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran)

Tikus sawah kerap menunjukkan pola kemunculan yang berulang, baik dari sisi waktu maupun lokasi serangan di lahan pertanian. Pola serangan ini sering dianggap sebagai kebetulan atau kecerdikan tikus semata. Pola tersebut sebenarnya berkaitan erat dengan rutinitas manusia di lahan pertanian yang berlangsung secara konsisten.

Tikus sawah merupakan hewan nokturnal yang aktif sejak senja hingga menjelang fajar. Pola aktivitas ini membantu tikus menghindari gangguan manusia dan predator. Kajian tentang perilaku tikus sawah menunjukkan bahwa ritme aktivitas harian hewan ini relatif stabil apabila kondisi lingkungan di sekitarnya tidak banyak berubah (Singleton, 2003). Rutinitas manusia yang berlangsung berulang justru menjadi acuan waktu bagi tikus untuk beraktivitas.

Pola tanam padi, masa bunting, dan waktu panen membentuk ketersediaan pakan yang dapat diprediksi. Tikus sawah memanfaatkan fase-fase tersebut untuk mencari makan dengan risiko yang lebih rendah. Kajian ekologi tikus sawah juga menunjukkan bahwa hewan ini memiliki kemampuan mengingat jalur pergerakan, lokasi sarang, dan sumber pakan (Tristiani et al., 2003). Kemampuan tersebut menyebabkan serangan sering terjadi pada lokasi dan waktu yang serupa.

Kondisi lahan pertanian turut berperan dalam membentuk pola perilaku tikus. Pematang yang ditumbuhi gulma, sisa panen yang tertinggal, serta keberadaan semak di sekitar sawah menyediakan tempat berlindung yang aman bagi tikus sawah (Payne et al., 2000). Lingkungan yang relatif tidak berubah memudahkan tikus menyesuaikan diri dan mempertahankan wilayah jelajahnya.

Respons petani terhadap serangan tikus umumnya dilakukan setelah kerusakan terjadi. Pendekatan ini sering berfokus pada pengurangan jumlah individu tikus tanpa memperhatikan faktor lingkungan yang memengaruhi perilaku tikus. Kondisi tersebut menyebabkan serangan dapat kembali terjadi pada musim tanam berikutnya dengan pola yang serupa.

Kajian perilaku hewan pengerat menyebutkan bahwa tikus memiliki sifat neofobia, yaitu kecenderungan menghindari hal baru (Quignon et al., 2005). Sifat ini dapat berkurang apabila lingkungan bersifat monoton dan mudah diprediksi. Lingkungan pertanian dengan pola yang sama dari waktu ke waktu justru mempercepat proses adaptasi tikus terhadap kondisi sekitarnya.

Pemahaman mengenai perilaku tikus sawah dan rutinitas manusia di lahan pertanian menjadi dasar penting dalam upaya pengelolaan hama. Perubahan pengelolaan lahan dan penyesuaian aktivitas manusia berpotensi memengaruhi pola aktivitas tikus. Hubungan antara perilaku manusia dan tikus sawah menunjukkan bahwa pengendalian hama tidak hanya berkaitan dengan organisme sasaran, tetapi juga dengan cara manusia mengelola lingkungannya.

Referensi:

Payne, J., M.francis, C., Nurani, K., dan Philipps, K. 2000. Panduan Lapangan Mamalia di Kalimantan, Sabah, Sarawak dan Brunei Darussalam, 599.

Singleton. 2003. Rattus argentiventer (Rice Field Rat). Diakses dari https://www.cabi.org/isc/datasheet/46833 

Tristiani, H., Murakami, O., dan Watanabe, H. 2003. Ranging and Nesting Behavior of the Ricefield Rat Rattus Argentiventer (Rodentia: Muridae) in West Java, Indonesia. Journal of Mammalogy, 84(4), 1228–1236.

Quignon, P., Giraud, M., Rimbault, M., Lavigne, P., Tacher, S., Morin, E., dan Galibert, F. 2005. The Dog and Rat Olfactory Receptor Repertoires. Genome Biology, 6(10), R83. https://doi.org/10.1186/gb-2005-6-10-r83

Share this post:

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cari, Jelajahi, Temukan